Tampilkan postingan dengan label Obat tradisional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obat tradisional. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Januari 2014

Bagaimana Konsumsi Obat Tradisional Pada Lansia?


Orang tua sering dianggap jarang mengkonsumsi obat-obatan tambahan dan obat-obatan alternatif. Namun tahukah anda, baru-baru ini surveys menunjukkan bahwa orang tua lebi seringmenggunakan obat-obatan tambahan dan obat-obat alternatif daripada orang yang lebih muda. Dibandingkan dengan sekitar 50% pada populasi umum, 60 sampai 80% dari konsumen lanjut usia telah menyatakan penggunaan setidaknya satu herbal atau nutrisi pada kondisi biasanya. Selain itu, jumlah obat yang diambil oleh orang tua tidak bisa dianggap tidak sepele, karena berkisar 4-7 kali per harinya (Moses, 2005)
Penggunaan produk herbal atau obat tradisional biasanya tersedia dan dapat diperoleh tanpa menggunakan resep. Bukti khasiat dan kemanan obat tradisional juga tidak selalu didukung oleh data ilmiah yang memada (Moses, 2005)
Ada segudang alasan mengapa lansia tertarik menggunakan obat-obat tambahan, termasuk obat tradisional. Alasan yang paling umum adalah bahwa yang obat ini mudah didapat, aman, dan efektif. Persepsi tersebut seperti mengesampingkan fakta bahwa terdapat kemungkinan adanya efek samping obat serta adanya interaksi obat. Selain itu, pada pasien lansia biasanya juga mengkonsumsi berbagai obat-obat lain terkait dengan penyakitnya dan penurunan fungsi tubuh. Oleh karena itu, rasionalitas penggunaan obat tradisional pada lansia harus lebih diperhatikan lagi (Moses, 2005)
Adanya penyakit kronis juga terkait dengan penggunaan obat tradisional yang lebih sering pada orang tua. Dalam sebuah studi dari orang tua dengan arthritis, orang-orang yang melaporkan penyakit yang lebih parah lebih cenderung menggunakan obat-obatan tradisional atau suplemen lainnya. Hal tersebut juga terjadi pada pasien diabetes dan kanker (Moses, 2005).
Lalu, kapan seorang lansia dapat menggunakan obat tambahan atau obat tradisional? Ada beberapa pedoman yang harus diperhatikan, yaitu
1.  Penggunaan harus bijaksana, baik dalam keadaan ditentukan, dianjurkan dan /  atau dipilih sendiri, obat-obatan harus digunakan hanya ketika  alternatif yang sesuai dan non-obat  dianggap sesuai kebutuhan.
2.    Penggunaan sesuai: obat yang paling tepat harus  dipilih, memperhitungkan faktor-faktor seperti  kondisi pasien, , potensi risiko dan manfaat pengobatan, dosis, lama pengobatan, dan biaya.
3.   Kemanan: efek merugikan dan kesalahan dalam penggunaan obat-obatan (baik dosis yang urang atau berlebihan) harus diminimalkan.
4.  Efikasi atau khasiat : artinya penggunaan obat tradisional harus dapat mencapai tujuan  terapi dengan memberikan perubahan yang bermanfaat dalam kesehatan.
(Moses, 2005).
Lalu, obat tradisional apa saja yang berpotensi berbahaya dan perlu diperhatikan penggunaannya pada orang tua? Mari kita lanjutkan
1.      Bawang putih

 Bawang putih digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit seperti hiperlipidemia (kelebihan lemak dalam darah), hipertensi, atherosclerosis, penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah), serta pencegahan kanker. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa  senyawa sulfur aktif alliin, allicin, ajoene dan dapat menghambat agregasi platelet, mengurangi pembentukan plak, meningkatkan fibrinolisis, dan sederhana mengurangi tekanan darah. Uji coba terkontrol secara acak (RCT) pada hiperlipidemia dilakukan pada awal 1990-an menyarankan bawang putih bubuk tablet menurunkan kadar lipid, tetapi percobaan sejak itu belum dilaporkan adanya efek yang signifikan secara statistik pada konsentrasi lipid plasma dengan dosis yang sama dan dalam populasi yang sama. Sebuah meta- analisis menyarankan efek antihipertensi, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengklarifikasi efek pada CVD. Studi lain juga telah menunjukkan peningkatan konsumsi bawang putih dalam makanan terkait dengan penurunan risiko berkembangnya kanker perut dan kanker kolorektal, tapi penggunaannya dalam suplemen tidak memberikan manfaat yang sama.
Efek samping penggunaan bawang putih adalah waktu perdarahan berkepanjangan, keluhan pada saluran cernagastrointestinal, nafas dan bau badan. Hentikan penggunaan setidaknya 7 hari sebelum operasi.
Bawang putih juga menimbulkan beberapa interaksi obat seperi saquinavir dan chlorzoxazone dan dapat berinteraksi dengan klorpropamid, ritonavir, fluindione, siklosporin, docetaxel, dan parasetamol. Beberapa laporan kasus menunjukkan bahwa bawang putih mempengaruhi fungsi trombosit dan pembekuan darah. Sehingga lansia yang mengkonsumsi obat-obatan tersebut harus berkonsultasi dengan dokter apabila akan menggunakan obat tradisional dengan bahan bawang putih.
2.      Echinacea



Echinacea digunakan pada kondisi pilek, infeksi saluran pernapasan atas, atau sebagai peningkat sistem imun (imunostimulan). Bukti ilmiah penggunaannya sampai saat ini adalah alkylamida dari echinacea merangsang fagositosis atau aktivasi makrofag, memodulasi sitokin (seperti IL6, IL 8, dan TNF alpha), dan meningkatkan mobilitas leukosit, yang pada akhirnya dapat meningkatkan sistem imun kita. Studi klinis menunjukkan echinacea efektif untuk pengobatan pilek serta dapat mengurangi insiden dan durasi flu. Efek samping  yang dapat terjadi pada penggunaannya adalah keluhan pada saluran pencernaan dan ruam. Echinacea dapat berinteraksi degan enzim di dalam tubuh, yaitu dapat memodulasi sistem enzim CYP3A4 dan berinteraksi dengan kafein dan midazolam. Konsultasikan dengan dokter jika anda sedang menggunakan obat-obatan tersebut atau menggunakan obat lainnya yang berpotensi menimbulkan interaksi.
3.      Ginseng
Ada berbagai jenis ginseng , dan dua berikut adalah yang paling umum :
a.       Amerika Ginseng ( Panax quinquefolium )

Ginseng jenis ini dapat digunakan untuk mengatasi pencegahan dan pengobatan diabetes, kelelahan, imunostimulan (meningkatkan sistem imun), anti penuaan, dan mengatasi kanker
b.      Asian Ginseng atau Korean Ginseng Merah ( Panax Ginseng )


Ginseng jenis ini dapat digunakan untuk mengatasi disfungsi seksual, pencegahan kanker, imunostimulan, meningkatkan stamina, stamina, fungsi kognitif, diabetes, dan HIV/AIDS
Sangat sedikit penelitian yang mebuktikan manfaat ginseng di atas. Konstituen aktif ginsenosides yang terdapat pada ginseng dapat memodulasi angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru). Ginseng Amerika telah terbukti mengurangi kadar glukosa postprandial (kadar glukosa setelah makan) pada diabetes tipe 2, tetapi masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk penggunaanya. Ekstrak ginseng terstandar terbukti dapat mempersingkat durasi flu atau infeksi saluran pernapasan. Studi terbaru menunjukkan manfaat dalam menurunkan kelelahan yang berhubungan dengan kanker tetapi masih diperlukan penelitian lanjutan.
Efek samping yang dapat timbul pada penggunaan ginseng adalah insomnia (sulit tidur) dan gangguan pada saluran cerna. Ginseng dapat menyebabkan  tindakan estrogenik dan harus digunakan dengan hati-hati oleh pasien dengan kanker hormon.
Ginseng Amerika dan Asia dapat mengurangi efek dari warfarin (obat yang biasanya digunakan pada pasien stroke) dan meningkatkan efek hipoglikemik insulin dan sulfonilurea. da laporan kasus panax ginseng berinteraksi dengan phenelzine. Apakah anda menggunakan ginseng bersamaan dengan obat-obat tersebut? Ayo konsultasikan pada dokter atau apoteker anda!
(Anastasi et al., 2011)

Daftar Pustaka
Moses, G. 2005. Complementary and Alternative Medicine Use in the Elderly. Journal of Pharmacy Practice and Research, Volume 35, No. 1.
Anastasi, J.K., Chang, M., dan Capili, B. 2011. Herbal Supplements: Talking With Your Patients. Journal for Nurse Practitioners, Vol. 7 (1): 29-35.


Senin, 13 Januari 2014

Apa yang Anda Ketahui tentang Obat Tradisional??



Istilah obat tradisional mungkin sudah tidak asing lagi di telinga anda. Sebagai bangsa Indonesia, penggunaan obat tradisional di Indonesia telah dilakukan oleh nenek moyang sejak berabad-abad yang lalu terbukti dari adanya naskah lama pada berbagai lontar diberbagai daerah di Indonesia misalkan pada Usada (Bali). Adanya konsep back to nature maka perkembangan obat tradisional menjadi lebih pesat. Hal tersebut diperkuat dari rekomendasi WHO dalam penggunaan obat tradisional termasuk herbal untuk pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama untuk penyakit kronis, penyakit degeneratif dan kanker. Penggunaan obat tradisional secara tepat dikatakan memiliki efek samping yang lebih sedikit (lebih aman) jika dibandingan dengan bahan kimia obat (Sari, 2006).
Dibandingkan obat-obat modern, obat tradisional juga memiliki beberapa kelebihan, antara lain: efek sampingnya relatif rendah jika digunakan dengan tepat, baik takaran, waktu dan cara penggunaan, pemilihan bahan serta kesesuaian dengan indikasi tertentu, dalam suatu ramuan dengan komponen berbeda memiliki efek saling mendukung, pada satu tanaman memiliki lebih dari satu efek farmakologi serta lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik dan degeneratif (Katno dan Pramono, 2006).
Disamping berbagai kelebihan, bahan obat alam juga memiliki beberapa kelemahan yang juga merupakan kendala dalam pengembangan obat tradisional (termasuk dalam upaya agar bisa diterima pada pelayanan kesehatan formal). Adapun beberapa kelemahan tersebut antara lain: khasiatnya lebih lemah dibandingkan obat kimia, bahan baku belum terstandar, belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar berbagai jenis mikroorganisme (Katno dan Pramono, 2006).
Lalu, apakah dibayangan anda, obat tradisional tersebut hanya berupa daun yang direbus atau sejenisnya? Ataukah jamu-jamuan yang biasa dijajakan oleh tukang jamu gendong? Sebenarnya, obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut, yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (BPOM, 2005). Obat tradisional atau obat yang berasal dari bahan-bahan alami tersebut kini sudah mulai berkembang. Di indonesia sendiri, kita mengenal 3 penggolongan obat tradisional. Berdasarkan cara pembuatan serta jenis klaim penggunaan dan tingkat pembuktian khasiat, Obat Bahan Alam Indonesia dikelompokkan menjadi jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka (BPOM, 2004). Lalu apa sebenarnya perbedaan ketiga obat tradisional tersebut?
Jamu merupakan obat tradisional indonesia yang klaim khasiatnya terbukti berdasarkan pengalaman atau empiris. Jadi, khasiat jamu sebenarnya sudah diketahui dari nenek moyang kita. Akan tetapi, obat tradisional yang tergolong jamu belum melalui uji-uji ilmiah dan kebenarannya belum didukung oleh data ilmiah (BPOM, 2004). Contoh jamu, misalnya jamu yang diracik oleh tukang jamu gendong. Selain jamu racikan, seperti jamu gendong, kini banyak jamu yang dikemas dalam kemasan modern seperti dalam bentuk kapsul maupun tablet.



Obat tradisional yang kedua adalah obat herbal terstandar (OHT). OHT merupakan  obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah distandardisasi. Uji praklinik merupakan uji yang telah dilakukan pada hewan (BPOM, 2005). Jadi OHT telah teruji manfaat dan keamanannya secara ilmiah melalui pengujian pada hewan. Selain itu bahan baku yang terstandarisasi ini diartikan sebagai penggunaan bahan baku yang telah terkontrol, baik dari proses penanamannya hingga pemanenannya, sehingga mutu dan keamanannya dapat dikontrol. Di Indonesia sendiri, telah beredar beberapa OHT, seperti berikut.







Obat tradisional yang ketiga adalah fitofarmaka. Berbeda dengan jamu dan OHT, fitofarmaka merupakan level tertinggi dari obat tradisional. Fitofarmaka merupakan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya telah di standarisasi (BPOM, 2005). Apabila OHT hanya mengalami tahap uji praklinik (uji pada hewan), fitofarmaka telah terbukti secara klinis dengan pengujian kepada manusia. Jadi, obat ini telah teruji keamanan dan khasiatnya pada manusia. Selain itu, bahan baku pembuatannya juga dikontrol seperti pada OHT, tetapi berbeda dengan OHT, fitofarmaka juga mengalami standarisasi untuk produk jadinya.  Karena membutuhkan pengujian laboratorium yang lebih banyak dan panjang, maka hanya baru 5 jenis fitofarmaka yang kita kenal di indonesia. Berikut merupakan contohnya.









Lalu, bagaimana kita mengenali jamu, OHT, atau fitofarmaka ketika akan membelinya? Anda tidak usah khawatir, karena obat tradisional akan diberi logo sesuai jenisnya. Logo jamu, OHT, dan fitofarmaka adalah sebagai berikut






Jadi, kini kita tidah hanya bisa mendapatkan manfaat obat tradisional yang telah terbukti khasiatnya secara turun temurun, tetapi juga kita bisa mendapatkan manfaat obat tradisional dengan kualitas yang lebih baik, seperti pada OHT dan Fitofarmaka.


DAFTAR PUSTAKA
BPOM. 2004. Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor : Hk.00.05.4.2411 tentang Ketentuan Pokok Pengelompokan Dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia. Jakarta: Depkes RI.
BPOM. 2005. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor : Hk.00.05.41.1384 Tentang Kriteria Dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar Dan Fitofarmaka. Jakarta: Depkes RI.
Katno dan Pramono S. 2006. Tingkat Manfaat dan Keamanan Tanaman Obat dan Obat Tradisional. Yogyakarta : Balai Penelitian Tanaman Obat Tawangmangu Dan Fakultas Farmasi UGM. Hal 1-14.
Sari, L. O. R. K. 2006. Pemanfaatan Obat Tradisional Dengan Pertimbangan Manfaat dan Keamanannya. Jember: Ps Farmasi Universitas Jember. Hal 2-3

Senin, 06 Januari 2014

INFORMASI OBAT TRADISIONAL


      




  Bangsa Indonesia telah lama mengenal dan menggunakan tanaman berkhasiat obat sebagai salah satu upaya dalam menanggulangi masalah kesehatan. Pengetahuan tentang tanaman berkhasiat obat berdasar pada pengalaman dan ketrampilan yang secara turun temurun telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam penggunaan obat tradisional perlu diperhatikan beberapa hal, meliputi :

a. Kebenaran Bahan 
       Tanaman obat di Indonesia terdiri dari beragam spesies yang kadang kala sulit untuk dibedakan satu dengan yang lain. Kebenaran bahan menentukan tercapai atau tidaknya efek terapi yang diinginkan..

 b. Ketepatan Dosis  
      Takaran yang tepat dalam penggunaan obat tradisional memang belum banyak didukung oleh data hasil penelitian. Peracikan secara tradisional menggunakan takaran sejumput, segenggam atau pun seruas yang sulit ditentukan ketepatannya. Penggunaan takaran yang lebih pasti dalam satuan gram dapat mengurangi kemungkinan terjadinya efek yang tidak diharapkan karena batas antara racun dan obat dalam bahan tradisional amatlah tipis. Dosis yang tepat membuat tanaman obat bisa menjadi obat, sedangkan jika berlebih bisa menjadi racun.  

c. Ketepatan Waktu Penggunaan  
      Kunyit diketahui bermanfaat untuk mengurangi nyeri haid dan sudah turun-temurun dikonsumsi dalam ramuan jamu kunir asam yang sangat baik dikonsumsi saat datang bulan. Akan tetapi jika diminum pada awal masa kehamilan beresiko menyebabkan keguguran. Hal ini menunjukkan bahwa ketepatan waktu penggunaan obat tradisional menentukan tercapai atau tidaknya efek yang diharapkan. 

d. Ketepatan Cara Penggunaan 
       Satu tanaman obat dapat memiliki banyak zat aktif yang berkhasiat di dalamnya. Masing-masing zat berkhasiat kemungkinan membutuhkan perlakuan yang berbeda dalam penggunaannya. Sebagai contoh adalah daun Kecubung jika dihisap seperti rokok bersifat bronkodilator dan digunakan sebagai obat asma. Tetapi jika diseduh dan diminum dapat menyebabkan keracunan / mabuk.

e. Tanpa Penyalahgunaan 
      Tanaman obat maupun obat tradisional relatif mudah untuk didapatkan karena tidak memerlukan resep dokter, hal ini mendorong terjadinya penyalahgunaan manfaat dari tanaman obat maupun obat tradisional tersebut (Sari, 2006).
 

  
    Obat herbal telah diterima secara luas di hampir seluruh Negara di dunia. Menurut WHO, negara-negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin menggunakan obat herbal sebagai pelengkap pengobatan primer yang mereka terima. Bahkan di Afrika, sebanyak 80% dari populasi menggunakan obat herbal untuk pengobatan primer (WHO, 2003). Untuk membuat obat tradisional berupa ramuan yang dibuat sendiri, dapat dilakukan cara sederhana dengan mengikuti petunjuk pembuatan ramuan. Telah diajarkan cara tersebut dan ternyata dapat dipraktikkan dengan mudah, karena bahan yang digunakan mudah didapat serta pembuatan yang sederhana. Pengajaran pertama diberikan kepada petugas kesehatan berupa teori singkat dan praktik pembuatan ramuan menggunakan bahan-tanaman obat setempat dan peralatan dapur yang ada. Pengetahuan yang diberikan antara lain tentang:

a. Bahan baku 
      Dibutuhkan pengetahuan tentang pengenalan tanaman berkhasiat obat. Bahan baku yang digunakan adalah bagian tanaman atau seluruh tanaman yang masih segar dan dicuci dahulu sebelum digunakan. Pilih tanaman atau bagian tanaman yang tumbuh subur, dalam keadaan utuh tidak dimakan serangga atau ulat dan tidak busuk atau layu. Bahan segar yang dapat disimpan adalah kunyit, temuwak, kencur, buah jeruk nipis, kencur, dll. Bila menggunakan bahan yang sudah kering, pilih yang belum bercendawan dan dimakan serangga. Sebelum digunakan dicuci dahulu.

 b. Air 
         Gunakan air bersih untuk mencuci bahan yang akan digunakan dan untuk membuat ramuan. Pembuatan obat tradisional yang tidak membutuhkan pendidihan atau dimasak harus menggunakan air masak.
 
 c. Peralatan 
        Dapat digunakan peralatan memasak yang ada di dapur seperti pisau, talenan, panci, parut, dll. Peralatan dicuci bersih terlebih dahulu sebelum digunakan dan setelah digunakan sehingga tidak tercampur dengan bahan masakan, khususnya yang berasal dari hewan. Untuk merebus, dapat digunakan panci yang dilapisi email atau menggunakan kuali/periuk dari tanah liat. Jangan menggunakan panci yang terbuat dari kuningan atau besi untuk menghindarkan timbulnya endapan, konsentrasi larutan yang rendah, timbulnya racun, atau efek samping lain akibat terjadinya reaksi kimia dengan bahan obat. Khusus untuk merebus jamu yang memberikan rasa pahit, sebaiknya digunakan panci khusus.
 
d. Meramu 
         Sebelum meramu, cuci tangan sampai bersih, siapkan bahan, dan letakkan pada wadah yang bersih. Pastikan bahwa telah diketahui resep ramuan yang akan dibuat (bila perlu melihat catatan).
 
e. Bobot dan takaran 
      Untuk mengukur bobot/takaran dapat digunakan peralatan yang ada di rumah tangga, misalnya gelas, cangkir, sendok, jari, helai, dll. Bobot dan takaran sesuaikan dengan resep yang telah diketahui.
 
f. Cara merebus ramuan
          Untuk merebus bahan/ramuan segar maupun kering, perlu diperhatikan hal berikut:
  • Masukkan bahan ke dalam wadah dan masukkan air sampai bahan terendam (sesuai takaran) dan nyalakan api. Api dapat kecil atau besar sesuai kebutuhan. Obat yang bersifat tonik biasanya direbus dengan api kecil sehingga bahan aktif dapat secara lengkap dikeluarkan ke dalam air rebusan. Obat yang bersifat mengeluarkan keringat, misalnya ramuan untuk influensa, gunakan api besar sehingga dapat mendidih dengan cepat. Dengan cara tersebut, penguapan dari bahan aktif yang mudah menguap dapat dicegah.
  • Bila tidak ada ketetuan lain maka perebusan dianggap selesai bila air rebusan tersisa setengah dari jumlah air semula.
  • Jika ramuan terdiri dari banyak bahan yang keras seperti batang, biji, maka perebusan dianggap selesai bila air tersisa sepertiganya.
g. Penggunaan

      Pastikan bahwa telah diketahui cara penggunaan ramuan. Obat tradisional ada yang digunakan dengan cara diminum atau merupakan obat luar. Penggunaan obat tradisional selama tiga sampai empat hari dan belum ada tanda-tanda penyembuhan atau perbaikan keluhan, segera dibawa ke tempat pelayanan pengobatan terdekat. Bila keluhan semakin memburuk, segera dibawa ke tempat pelayanan pengobatan terdekat tanpa menunggu atau mencoba-coba ramuan lainnya lagi.


h. Aturan minum dan jangka waktu pemakaian

      Ikuti petunjuk atau aturan minum yang sudah diketahui atau diajarkan. Dosis perlu diperhatikan dan ditaati agar pengobatan mencapai hasil yang diharapkan. Obat biasanya diminum sebelum makan, kecuali bila ramuan tersebut merangsang lambung. Obat yang bersifat menenangkan dan menyebabkan kantuk sebaiknya diminum menjelang tidur malam. Obat tradisional yang digunakan bersama-sama obat moderen sebaiknya diberi jangka waktu minum, yaitu selisih sekitar 2 jam untuk kedua jenis obat ini. Sebaiknya, ramuan segera diminum dalam keadaan segar. Untuk ramuan yang tidak dididihkan atau direbus, gunakan segera dalam waktu 12 jam. Sedangkan ramuan yang direbus dapat digunakan dalam jangka waktu 24 jam.
(BPOM RI, 2005)



Contoh obat herbal untuk orang tua adalah pemakaian daun rambutan untuk menghitamkan rambut beruban. Berikut adalah cara penggunaannya:
Cuci daun rambutan secukupnya lalu tumbuk sampai halus. Tambahkan sedikit air sambil diaduk merata sampai menjadi adonan seperti bubur. Peras dan saring dengan sepotong kain. Gunakan air yang terkumpul untuk membasahi rambut kepala. Lakukan setiap hari sampai terlihat hasilnya (Dalimartha, 2007).


Daun dari rambutan mengandung tannin, dimana tannin merupakan zat warna alami yang terdapat di dalam tanaman, sehingga dapat digunakan sebagai pewarna rambut (Dalimartha, 2007).



DAFTAR PUSTAKA

BPOM RI. 2005. Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik. Jakarta. 

Dalimartha, S. 2007. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 3. Jakarta: Puspa Swara. Hal: 114-117.

Donatus, I. A. 1999. Nasib Obat Pada Diri Lanjut Usia (Lansia). SIGMA, 2(1): 1-10.



Sari, L. O. R. K. 2006. Pemanfaatan Obat Tradisional dengan Pertimbangan Manfaat dan Keamanannya. Majalah Ilmu Kefarmasian, 3(1): 1-7. 


WHO, 2003, Traditional Medicine, http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs134/en/, diakses Desember 2013.